Cinta yang Baik Membuatmu Tak Pernah Sepi. Meski Berpekan-pekan Ditinggal Sendiri

meskiberpekanpekanditinggalsendiri

Ini tentang dia. Yang kehadirannya dalam hidupmu bisa dihitung dalam satuan pekan saja.

Dia, yang di tengah jarak dan kesibukan

memberi rasa didampingi.

Dia, yang meninggalkanmu berpekan-pekan sendiri. Namun bersamanya anehnya kau tak pernah merasa sepi.

Waktu dia pergi imajinasimu mendadak jadi pelari. Kau bahkan rela bertukar peran jadi benda mati

Jika bisa kau ingin melipat diri agar bisa pas di saku kemejanya. Terselip manis dalam sekotak ruang di dada atasnya. Di sebelah kanan. Agar pas di jantungnya. Keinginanmu ini punya latar belakang yang sederhana saja. Supaya meski dia sedang bekerja dan kalian terpisah kota– jeda tak harus terjadi sebegini lama.

Sesekali ada juga kelebat gila di kepalamu. Kau ingin minta Tuhan diijinkan jadi guling yang dipeluknya malam itu. Hangat yang menguar dari lehernya, suara nafas yang teratur, bahkan gumam dengkurnya membuatmu tak keberatan jadi benda mati sementara. Saat kalian terpisah sebegini lama, banyak hal yang mesti ditunda peluapannya.

Bersamanya komoditas mewah berubah jadi sesederhana ditemani. Uniknya, ada kekuatan yang menghalau sepi pergi

cintayangbaikmembuatmutakpernahsepi

Dia bukan orang yang bisa terus ada kapan pun kamu membutuhkannya. Ada hari-hari panjang yang mesti dilalui sendiri. Ketangguhan dan kesabaranmu diuji sampai batas maksimal selama ini.

Bisa dihitung berapa kali kalian bisa lunch date atau melakoni fancy dinner dalam sebulan. Anniversary, ulang tahun, bahkan libur nasional tak selalu bisa digunakan sebagai kesempatan berduaan. Namun rasa mahfum selalu datang — ada hal yang lebih penting untuk diperjuangkan.

Melepasnya pergi melakoni kewajiban jadi hal yang ringan saja dilakukan. Tak perlu ada drama dalam prosesi pelepasan. Dia hanya akan mengatakan bahwa pesawatnya sudah siap lepas landas. Beberapa jam setelahnya pesannya kembali masuk, sekadar bilang bahwa hingga ke lokasi Tuhan masih memberi keselamatan. Selepasnya hubungan kalian berjalan tanpa banyak kejutan. Dia fokus pada pekerjaan. Kamu bersabar menunggunya pulang.

Hebatnya, tak ada gelegak berlebihan karena jarak dan kesendirian. Kau menyadari ini hanya fase yang harus dilewati. Jarak tak perlu ditanggapi dengan sedramatis ini.

Hatimu sigap menciptakan ekuasi. Apakah cinta yang baik memang seperti ini? Tak menyisakan sepi, meski berpekan-pekan ditinggal sendiri

Entah dari mana datangnya rasa cukup. Namun kamu selalu merasa seperti sandwich yang genap dalam satuan tangkup.

Pesannya yang masuk hanya 1-2 kali sehari tidak membuatmu merasa meremang dan sendiri. Perbincangan singkat sebelum tidur sudah membuatmu merasa cukup dalam hati. Ada rasa mengerti dan peduli. Kalian hanya sedang tak bisa bersama. Bukan berarti harus jadi drama, karena dia toh tak akan ke mana-mana.

Saat menyetir pulang seorang diri, bukan cuma sekali kamu bertanya dan meyakinkan diri sendiri. Sepikah dirim? Sedang memasang tameng penguatkah sistem tubuhmu? Ah, tapi nampaknya bukan begitu…

Dia tidak di sini. Aku sedang tak ditemani. Apakah cinta yang baik memang seperti ini?