Kamu Seperti Buku yang Tak Pernah Bosan Saya Baca. Meski Sudah Berkali-kali Mengulangnya.

kamusepertibuku

 

Kamu tahu sendiri bagaimana saya ini mudah sekali bosan karena hal-hal monoton yang terjadi berulang kali. Kamu jadi saksi mata betapa saya suka sekali mengubah jalan, mengganti rute sehari-hari karena alasan kata hati. Kebiasaan menggeser perabot demi suasana yang berganti pun amat mudah kamu pahami.

Tapi baru padamu saya menemukan anomali.

Setelah sekian lama kita bersama, anehnya rasa bosan belum juga melanda. Kamu adalah antitesis dari semua kengganan saya pada rutinitas. Padamu, perasaan yang sudah sekian lama dirasa anehnya tetap berbekas.
Kali ini memang unik sekali. Kamu seperti buku yang tak pernah bosan saya baca berulang kali

kamusepertibukuyangtakpernahbosansayabaca

Dalam ikatan sebelum ini mudah sekali untuk saya berpaling dan menyerah setiap rasa bosan datang. Bahkan komitmen tak begitu saja membuat saya bertransformasi jadi pejuang. Namun seperti gelombang demokrasi yang konsisten melanda Amerika Latin, perubahan pun datang selepas kebersamaan kita jadi sesuatu yang rutin.

Bersama kamu anehnya rutinitas tidak lagi meninggalkan lebam sebagai bekas. Justru kedekatan membuat kita tumbuh sebagai dua penyimpan rasa yang tegas. Seperti buku yang tak pernah bosan dibaca berulang kali, baru kali ini saya tak keberatan menjalani hari-hari yang sama dengan kamu di sisi.

Kamu adalah e-book yang tidak pernah bosan saya baca di gadget kesayangan hampir setiap hari. Meski sudah lama terunduh dan jadi teman melewati waktu luang yang sepi, kamu tetap jadi rumah ternyaman untuk saya kembali.

Membuka ulang halamanmu seperti menemukan jalan pulang. Sampai hari ini kamu tak pernah gagal membuat saya meremang

Bukan hal yang mudah untuk mempertahankan rasa. Apalagi buat orang yang tak sabaran macam saya. Kalau bisa setiap hari ada jingkatan baru demi membuat bosan tak lagi datang. Hal-hal anyar yang membuat remang selalu bisa dipanggil pulang.

Tapi seperti yang sudah saya bilang, kamu adalah anomali yang sampai hari ini jadi nomor wahid sebagai pemenang. Kebiasaan kecilmu yang sudah saya hapal di luar kepala: bagaimana kamu menyesap kopi dengan syahdu, seriusnya wajahmu saat memelototi halaman e-book di gadget andalanmu, sampai bagaimana tanganmu selalu melingkar pas di pinggang atas saya seerat itu.

Menjalani semua ini sekian lama denganmu membuat saya percaya. Rasa bosan bukan sahabat baik yang pasti datang dalam setiap interval masa. Sudah lebih dari ratusan hati kita bersama. Tapi kamu adalah buku lawas yang tak pernah bosan saya baca. Selalu ada kejutan tiap kali saya membuka ulang halamannya.

Barangkali cinta yang baik itu seperti wine yang kian tua. Makin lama disimpan, makin mahal harganya Barangkali cinta yang baik itu seperti wine yang tua

Ini akan terdengar menggelikan sekali. Tapi kamu memang seperti buku yang tak pernah bosan saya baca ulang berulang kali. Meski tangan ini sudah hapal bagaimana rasanya membuka tiap halamanmu, merasakan pergantian dari satu kisah ke kisah lain yang terasa familiar sekali transisinya di situ.

Barangkali cinta kita ini seperti wine yang tua. Atau buku yang sudah terlalu nyaman dipahami sampai tiap baris dalam paragrafnya. Kita memang sudah lama bersama. Tapi makin lama, justru kebersamaan ini makin mahal harganya.

Bersulang untuk kebersamaan dan kehangatan kita.

Sungguh, saya cinta.