Dampak Akibat Kumpul Kebo

Kumpul Kebo

Kumpul Kebo. Sepasang kekasih mengontrak sebuah paviliun. Mereka belum menikah. Pemilik paviliun tidak memperdulikan setatus mereka. Yang penting sangup bayar sewa. Paviliun itu terletak dipingiran utara kota bandung.

Si pria, adalah seorang mahasiswa fakultas hukum semester trahir di salah satu kampus. Sebut saja namanya Frans. Ia berasal dari Sumatra Utara. Wajah berjerawat sosoknya jangkung, bila sedang berbicara suaranya mengelegar. Di balik itu semuanya, ia adalah pemuda yang ramah dan sopan.

Sedangkan ceweknya kuliah semester 111 di kampus berbeda. Ia berasal dari kota Banka. Sebut saja namanya Widy. Kulit putih bersih. Wajah cantik. Matanya sipit meskipun bukan keturunan cina. Badan tinggi semampai. Rambut lurus sebahu.

Mereka bertemu dan di perkenalkan saat Widy ikut menghadiri acara wisuda saudaranya di kampus frans. Peristiwa itu terjadi sekitar setengah tahunan yang lalu. Setelah pacaran, meraka memutuskan untuk hidup bersama dengan mengontrak paviliun itu.

Setengah tahun kemudian Widy hamil, mengetahui kehamilan Widy, perasaan mereka menjadi campur aduk. Senang segera mempunyai momongan . Takut karena belum terikat perkawinan. Takut juga karena kedua orang tua mereka belum ada yang mengetahui bila mereka hidup bersama. Rasa kuwatr terhadap masa depanya muncul menginggat mereka belum ada yang lulus kuliah. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberitahu orang tua masing-masing. Meski awal mulanya kaget, kedua orang tua mereka sepakat untuk meningkahkanya. Pesta pernikahan diadakan secara sederhana dirumah orang tua Widy.

Mereka sudah mempunya tangung jawab untuk memberi nafkah pada istrinya, Frans berusah mencari kerja. Agak kesulitan mereka mendapatkan pekerjaan, karena sarjana hukumnya belum bisa diselesaikan. Akhirnya dia magang di perusahaan firma hukum atas rekomendasi saudara Widy. Sedang Widy, dalam kondisi hamil, ia tetap melanjutkan kuliah. Orang tuanya tetap rutin mengirim uang untuk biaya kuliah.

Hubungan pasangan kumpul kebo ini berahir dengan perceraian setelah mereka berusia sekitar setahun.

Dampak Kumpul Kebo

Pasangan suami istri yang belum menikah telah menjalani hidup bersama, berpeluang atau berdampak lebih besar untuk bercerai. Menurut penelitian dilakukan Dr. Catherine L. Cohan dan Stacey Kleinbaum dari Pennsyvania State University, AS, pasangan yang hidup bersama sebelum menikah lebih mungkin bermasalah dalam komunikasi antar pasangan sehingga rawan cerai.

Kepada 92 pasangan yang sudah menikah sekitar dua tahun, periset menanyakan kepuasan mereka dalam perkawinan, riwayat depresi, menyalahgunakan minuman berakohol, hingga pengunaan agresivitas fisik dalam memecahkan persoalan perkawinan. Selain itu, secara langsung responden juga diminta berdiskusi membahas permasalahan seputar perkawinan.

Dari situ diketahui, pasangan yang hidup bersama sebelum menikah kurang bersifat positif dan justru bersikap negatif, bila harus membahas persoalan dalam perkawinan dan menyediakan dukungan bagi pasangan mereka. Sebaliknya, secara verbal mereka lebih agresif dan lebih mudah saling bersikap bermusuhan dibandingkan dengan pasangan yang sebelumnya tidak kumpul kebo.

Akibat Kumpuk Kebo Komitmen Rendah

Penyebab itu semua, priset menduka, ada kemungkinan saat memasuki perkawinan, pasangan yang pernah kumpul kebo memiliki komitmen yang rendah. Iklim hubungan yang sangat terbuka, mungkin penyebabnya kemungkinan mereka kurang termotifasi untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan konflik. Lapor peneliti dalam Journal of Marriage and Family.

Menurut peneliti, memang tidak semua pasangan yang sebelumnya telah kumpul kebo bercerai. Namun kenyataanya bahwa keterampilan komunikasi antarpasangan yang mereka miliki rendah, para penasihat perkawinan bisa memulai membenahi kekurangan ini bila menghadapi persoalan pasangan yang pernah kumpul kebo.

Selain itu, seseorang yang pernah kumpul kebo juga dimungkinkan mengalami penurunan kepuasan perkawinan, termasuk kepuasan dalam hubungan seksual. Hal ini terjadi, karena berkurangnya motivasi, sudah tidak ada lagi tantangan sehingga sensasi yang mereka peroleh menurun drastis.

Hubungan seksual yang tidak memuaskan, penyebabnya berkurangnya keintiman dan kedekatan secara emosional pasangan. Komunikasi mereka menjadi hambar dan pada giliranya akan mengaggu keharmonisan rumah tangga mereka. Diketahui, hubungan seksual yang sehat memuaskan, merupakan faktor utama menjaga keharmonisan dan keutuhan sebuah keluarga.

Kumpul kebo yang dimaksud disini bukan binatang kerbau yang dikumpulkan pada satu kandang atau lapangan. Tapi, sepasang manusia yang berlainan jenis yang hidup bersama dan melakukan hubungan seksual tanpa menikah.

Fenomena kumpul kebo sudah diangap sudah biasa, semisal di Inggris. Sementara di Indonesia sebagai sesuatu yang tabu. Bahkan semua agama mengharamkanya.

Hasil laporan riset Kantor Stastistik Nasional Inggris pada tahun 2015 menunjukkan satu dari enam warga Inggris hidup kumpul kebo dengan pasanganya. Padahal pada awal 1960, kurang satu dari seratus penduduk dewasa di Inggris dengan usia dibawah 50, diperikan menjalani kehidupan kumpul kebo pada suatu waktu. Bandingkan dengan pada 2015, tercatat satu dari enam penduduk.

Adapun salah satu penyebab kenapa lebih banyak pasangan tidak menikah dan memilih hidup kumpul kebo, yakni faktor kesejahteraan secara finansial. Banyak pasangan yang merasa tidak mampu membiayai persaratanya, seperti memiliki rumah dan mobil sendiri. Dengan demikian peningkatan angka pengagguran dan biaya hidup pada beberapa tahun terahir di Inggris, menjadi salah satu sebab menurunya pernikahan.

Faktor ini juga menjadi penyebab banyak pasangan kumpul kebo di Ciancur, Jawa Barat. Bayangkan saja, biaya nikah ada yang mencapai rp. 300,000 per pasangan. Padahal biaya resmi nikah rp. 60.000 per pasangan. Alasan petugas KUA memasang tarif setinggi itu, karena lokasi atau tempat pernikahan jauh dari pusat kota. Karena itu, biaya nikah disesuaikan dengan jauh tidaknya tempat nikah.

Negara barat tidak semuanya melegalkan kumpul kebo. Lihat saja negara bagian North Dakota, Amerika Serikat. Disana dikategorikan sebagai pelaku kriminal. Mereka menjalaninya secara terbuka bisa didenda USDI.1.000 atau dipenjara 30 hari.

North Dakota adalah satu di antara negara bagian AS yang menjujung tinggi moral masarakat. Bersama Florida, Michigan, North Carolina, Virginia dan West Virginia, negara-negara itu menerapkan aturan yang sangat tegas untuk mencegah prilaku yang tidak baik di masarakat. Dituju negara bagian itu, pasangan kumpul kebo disejajarkan dengan penjahat seksual dan pemerkosa.

Larangan untuk menjalani hidup kumpul kebo di Indonesia telah dimaksukksn dalam usulan RUU KUHP pasal 422 tentang larangan kumpul kebo. Yakni, hidup bersama sebagai suami istri diluarperkawinan yang sah. Selain itu semua agama  yang diakui di Indonesia juga melarang adanya kehidupan kumpul kebo. Kumpul kebo merupakan salah satu bentuk penyakit moral masarakat.

Cara atau wadah untuk berhubungan antara seseorang lelaki dan seorang perempuan sebagaimana sebagai suami istri, sudah diatur sebuah lembaga perkawinan sebagai mana diatur dalam UU No.1 Tahun 1974. Di situ juga diatur mengenai perlindungan hak dan kewajiban mereka dan anak yang dilahirkanya. Di samping akan memberikan ketenangan dan menjadikan terhormat.

Kumpul kebo mengakibatkan rusaknya moral dan tatanan kehidupan pada masarakat. Anak yang dilahirkan, akan membawa beban psikologis dalam lingkungan dan tumbuhnya generasi kumpul kebo. Selain itu, terjadi rusaknya nasab seseorang atau kaburnya garis keturunan, karena banyak terjadi pembuahan biologis yang tidak jelas siapa bapaknya.

Baca juga artikel Kesehatan Seksual Pria: Penyebab Utama Gangguan Kesuburan Pada Pria