Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan

Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan

Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan. Di masarakat banyak terjadi ketegangan hidup perkawinan, bahkan berahir dengan penceraian, karna salah satu pihak diangap tidak setia. Kita sering mendengar atau menyaksikan seorang suami menjalin hubungan dengan perempuan lain. Di pihak lain, semakin muncul ke permukaan seorang istri yang juga menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Lalu orang mengangap mereka tidak setia pada pasanganya.

Dalam hidup perkawinan, pada umumnya kesetiaan dianggap menjadi sesuatu yang sangat penting bahkan menjadi tuntutan mutlak, baik bagi istri maupun suami. Tetapi acapkali pula arti kesetiaan menjadi kabur ketika pasangan suami istri dihadapkan pada masalah yang mengganggu relasi mereka.

Kesetiaan dalam relasi suami istri sebenarnya mengandung pengertian saling memiliki satu sama lain, tanpa terbagi dengan orang lain. Dengan demikian kesetiaan yang sejati mengandung pengertian, baik suami atau istri, tidak membagi emosi dan atau fisiknya kepada orang lain.

Tetapi dalam perkembangannya kemudian, tampak terjadi perubahan arti kesetiaan dalam relasi suami istri. Banyak istri yang meng-anggap suaminya tidak setia karena kemudian menikah lagi atau mempunyai perempuan simpanan. Tetapi banyak juga istri yang menganggap suaminya biasa saja bila “hanya” melakukan hubungan seksual dengan perempuan lain, asai tidak berlanjut dengan perka-winan atau bentuk hubungan lain yang bersifat saling memiliki.

Di pihak lain ada pula laki-laki yang tidak menganggap istrinya tidak setia bila hanya melakukan hubungan seksual, asai tidak berlanjut dengan keterlibatan emosi yang dalam. Tetapi bila kemudian sang istri larut dalam bentuk hubungan yang melibatkan emosi dengan laki-laki lain, barulah sang suami menganggapnya tidak setia.

Baca juga: Viagra Obat Penderita Impotensi

Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan

Pengaruh Kontrasepsi

Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan. Melihat kecenderungan perubahan pandangan ini, tampaknya hubungan seksual hanya dianggap sebagai sesuatu yang superfisial, yang dilakukan hanya untuk kenikmatan sesaat, tanpa makna yang lebih dalam. Dengan perubahan seperti ini, maka organ seks dengan fungsi seksualnya dianggap sama dengan organ lain, seperti tangan dan kaki. Tetapi pandangan seperti ini tidak selalu benar. Ternyata banyak pernikahan yang kemudian goyah akibat ketidaksetiaan seksual yang semula dianggap hanya superfisial saja.

Seksualitas adalah sebagian kehidupan. Justru faktor seksuali-taslah yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi manusia untuk melangsungkan perkawinan, di samping faktor-faktor lainnya. Selain itu, faktor seksualitas juga merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi kebahagiaan sebuah perkawinan.

Di dalam perkawinan seksualitas mempunyai empat dimensi, yaitu dimensi prokreasi, dimensi rekreasi, dimensi relasi, dan dimensi institusi. Dimensi prokreasi mengandung arti menghasilkan keturunan, sebagai generasi penerus. Dimensi rekreasi berarti seksualitas untuk dinikmati karena memang mengandung sensasi erotik yang menyenangkan. Sedang dimensi relasi mengandung pengertian seksualitas untuk mempererat hubungan pribadi suami istri. Dan dimensi institusi berarti seksualitas yang berlangsung di dalam dan dilindungi oleh lembaga perkawinan.

Pada masa lalu, dimensi prokreasi sangat menonjol dalam kehidupan perkawinan. Seakan-akan hubungan seksual identik dengan hamil dan melahirkan. Akibatnya, dimensi rekreasi seakan-akan ditekan atau dilupakan, terutama oleh pihak istri, yang terus sibuk dengan urusan hamil dan melahirkan.

Tetapi setelah kontrasepsi didapatkan dan dimasyarakatkan, maka dimensi prokreasi dapat ditekan, sehingga frekuensi hamil dan melahirkan menjadi sangat rendah. Dalam keadaan demikian, maka dimensi rekreasi menjadi sangat menonjol. Manusia merasa lebih bebas melakukan kontak seksual dan menikmatinya, karena tidak Di luar perkawinan, seksualitas tidak utuh mengandung empat dimensi itu. Pemuasan seksual yang dilakukan antar remaja, misalnya, hanya mengandung dimensi rekreasi saja, atau paling jauh meliputi dimensi relasi. Demikian juga pemuasan seksual dengan pekerja seks perempuan atau laki-laki, semata-mata hanya untuk tujuan rekreasi, tidak lebih jauh lagi.

Perubahan pandangan yang menganggap hubungan seksual hanya sebagai suatu hubungan antara dua organ, sama seperti organ tubuh yang lain, tampaknya sangat dipengaruhi oleh terpisahnya dimensi prokreasi dan dimensi rekreasi oleh alat atau cara kontrasepsi.

Manusia merasa lebih bebas melakukan hubungan seksual, bahkan di luar perkawinan, karena akibat prokreasi yang ditim-bulkannya, yaitu kehamilan, sudah dapat ditiadakan. Lebih jauh perubahan ini menimbulkan pengaruh sangat besar dalam ukuran kesetiaan suami istri.

Akibat ketidaksetiaan seksual ternyata cukup dahsyat. Ketidaksetiaan seksual bukan hanya berpengaruh terhadap kehidupan perkawinan, tetapi juga menjadi penyebab penularan penyakit kelamin (penyakit menular seksual), termasuk HIV/AIDS yang kini terus semakin mengancam umat manusia. Berdasarkan data yang ada, sekitar 80 persen lebih kasus HIV/AIDS di Indonesia, seperti juga di seluruh dunia, mendapat penularan melalui hubungan seksual bebas.

Kehidupan Seksual Yang Harmonis

Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan. Agar kesetiaan seksual benar terjadi, maka kehidupan seksual yang menyenangkan dan harmonis harus dibina dalam setiap perkawinan. Banyak pasangan suami istri yang tidak dapat menikmati kehidupan seksual seperti yang diinginkan karena penyebab tertentu, misalnya ketidakmengertian atau gangguan fungsi seksual baik pada suami ataupun istri.

Baca juga: Obat Pembesar Penis Alami Tercepat Permanen Best Seller

Kalau kehidupan seksual yang menyenangkan tidak didapatkan di dalam perkawinan, tentu akan dicari di luar perkawinan. Apalagi kalau lingkungan sangat memungkinkan untuk itu. Dan ternyata berlanjut dengan keterlibatan emosi yang dalam. Tetapi bila kemudian sang istri larut dalam bentuk hubungan yang melibatkan emosi dengan laki-laki lain, barulah sang suami menganggapnya tidak setia.

lingkungan memang semakin mendukung untuk terjadinya hubungan seksual dengan orang lain di luar perkawinan. Alasannya, karena lingkungan yang ada ialah lingkungan dengan perubahan pandangan tentang arti seksualitas, yang tidak lagi menganggap seks sebagi sesuatu yang sakral.

Banyak orang berpendapat bahwa hubungan seksual adalah sesuatu yang bersifat alamiah, sehingga siapa saja dapat melakukan. Pendapat ini mungkin benar, bila diartikan hanya sekadar melakukan hubungan seksual. Tetapi ketika orang mulai menuntut suatu kehidupan seksual yang harmonis, maka pendapat itu salah sekali.

Kehidupaan seksual yang harmonis adalah kehidupan seksual yang dapat dinikmati bersama oleh suami dan istri. Dalam kehidu¬pan perkawinan, kehidupan seksual yang harmonis haruslah dibina bersama, tidak dapat dibiarkan begitu saja berlangsung secara alamiah.

Untuk membina kehidupan seksual suami istri yang harmonis sangat diperlukan komunikasi yang baik dan pengertian yang benar mengenai seksualitas, baik seksualitas diri sendiri maupun pasangannya. Kemudian, secara teknis, diperlukan proses belajar hubungan seksual, berdasarkan komunikasi dan pengertian yang benar itu. Dengan demikian diharapkan terbina kehidupan seksual yang harmonis.

Itulah artikel kesehatan seksualitas tentang Mencegah Ketidaksetiaan Seksual Dalam Perkawinan, semoga artikel ini sbermanfaat bagi pembaca, selamat membaca.

Baca juga Artikel Kesehatan Seksualitas: Berkelit Kejemuan Seksual Dan Cara Mengatasinya