Mengenal Lebih Dalam Tentang Orgasme Pada Perempuan

Mengenal Lebih Dalam Tentang Orgasme Pada Perempuan

Mengenal Lebih Dalam Tentang Orgasme Pada Perempuan. Banyak laki-laki tidak mengenal orgaeme pada perempuan atau mengetahui apakah istrinya dapat mencapai orgasme atau tidak, ketika melakukan hubungan seksual. Banyak laki-laki mengangap sang istri mampu mencapai orgasme, padahal ternyata tidak. Akibatnya tidak sedikit laki-laki merasa malu atau kecewa setelah mengetahui bahwa istrinya tidak pernah mencapai orgasme, walaupun sudah lama menikah. Tidak sedikit pula yang tiba-tiba menyadari kebodohanya selama ini.

Memang aneh kedengarannya kalau seorang perempuan yang sudah lama menikah, bahkan sudah mempunyai beberapa anak, tidak pernah menikmati kehidupan seksualnya. Tetapi inilah yang terjadi dan banyak dijumpai di klinik seksologi.

Sebagian perempuan itu merasa kecewa karena dorongan seksualnya tidak mendapatkan pelepasan setelah melakukan hubungan seksual. Sebagian lain merasa penasaran setelah kawan-kawan perempuannya menceritakan pengalaman seksualnya yang cukup memuaskan. Tetapi sebagian lain berusaha menerima kenyataan yang sebenarnya tidak dia inginkan itu.

Banyak laki-laki yang menganggap sang istri telah mencapai orgasme karena melihat atau merasakan telah terjadi perlendiran vagina. Peristiwa ini dianggap sama dengan keluarnya sperma (ejakulasi) pada laki-laki, yang terjadi bersama-sama dengan orgasme. Padahal perlendiran vagina hanya merupakan reaksi awal perempuan terhadap rangsangan seksual yang diterima. Ketidaktahuan ini tentu berakibat dalam ketidakharmonisan hubungan seksual, karena pihak laki-laki menganggap hubungan seksual telah selesai bagi sang istri.

Memang, tidak selalu mudah mengetahui apakah perempuan telah mencapai orgasme, yang berarti hubungan seksual telah selesai. Masalahnya, bentuk anatomik kelamin perempuan tidak seperti laki-laki, yang dengan sangat jelas menunjukkan perubahan bila hubungan seksual telah selesai dilakukan.

Demi keharmonisan hubungan seksual, maka laki-laki perlu mengenali tanda yang terjadi dan dialami perempuan ketika mencapai orgasme. Kalau tidak, maka akan tetap saja banyak laki-laki tdiak mengetahui bahwa istrinya tidak pernah mencapai orgasme selama bertahun-tahun menikah.

Mengenal Orgasme Pada Perempuan

SENSASI EROTIK

Orgasme atau yang kerap disebut kenikmatan seksual sebenarnya merupakan suatu puncak reaksi seksual. Puncak reaksi seksual tercapai bila orang menerima rangsangan seksual yang efektif, baik melalui hubungan seksual maupun cara-cara lain. Ketika mencapai orgasme, orang akan merasakan suatu sensasi erotik yang menyenangkan. Sensasi erotik yang tercapai ketika mencapai orgasme ditambah dengan kesenangan secara psikis, inilah sebenarnya yang disebut kepuasan seksual.

Ada kalanya orang dapat mencapai orgasme, yaitu merasakan sensasi erotik sesaat yang menyenangkan itu, tetapi secara psikis tidak merasa senang. Akibatnya kepuasan seksual tidak tercapai. Keadaan ini terjadi, misalnya kalau hubungan seksual yang dilakukan hanya semata-mata untuk memenuhi tuntutan dorongan seksual, tanpa keterlibatan emosi terhadap pasangannya. Keterlibatan emosi pun berbeda terhadap individu yang berbeda. Karena itulah kepuasan seksual yang dicapai dapat menjadi berbeda, bila emosi yang terlibat juga berbeda.

Bagaimana mengetahui apakah perempuan telah merasakan sensasi erotik yang menyenangkan itu ? Tentu saja sulit bahkan tidak mungkin mengetahui sensasi erotik itu, karena suatu sensasi hanya dirasakan oleh yang mengalaminya. Tetapi ternyata reaksi seksual dan sensasi erotik sebagai puncaknya, juga menimbulkan reaksi fisik, tidak hanya pada kelamin melainkan juga pada bagian tubuh yang lain. Nah, reaksi fisik inilah yang perlu dikenali untuk mengetahui apakah seseorang perempuan telah mencapai orgasme atau tidak.

REAKSI FISIK

Sebelum orgasme tercapai, ada dua fase yang harus dilalui, baik oleh laki-laki maupun perempuan, yaitu fase rangsangan dan fase datar. Fase Rangsangan ialah suatu fase reaksi seksual yang timbul ketika orang menerima rangsangan seksual.

Pada fase ini terjadi reaksi seksual pada kelamin dan pada bagian-bagian tubuh yang lain. Reaksi seksual ini menyebabkan orang menjadi siap untuk melakukan hubungan seksual. Fase ini kemudian disusul oleh fase datar, yang merupakan kelanjutan dan penguatan fase rangsangan. Pada fase ini orang menjadi semakin siap agar hubungan seksual dapat mencapai puncak reaksinya yaitu orgasme. Setelah mencapai fase orgasme, maka reaksi seksual menurun kembali, menuju kepada keadaan semula sebelum ada rangsangan seksual. Keadaan kembali ke semua ini disebut fase resolusi.

Pada fase rangsangan, perempuan mengalami perubahan pada kelamin dan bagian tubuh lainnya. Perubahan pada kelamin ialah terjadi ereksi klitoris, perlendiran vagina dan perubahan pada bibir kelamin. Klitoris yang mengalami ereksi menjadi tegang dengan ukuran lebih besar dan panjang.

Perlendiran vagina terjadi akibat bendungan aliran darah pada vagina yang kemudian menimbulkan suatu proses yang disebut transudasi. Perlendiran vagina yang cukup dapat dirasakan dengan nyata. Karena perlendiran inilah maka hubungan seksual dapat berlangsung dengan baik tanpa hambatan, khususnya bagi perempuan. Sebaliknya kalau perlendiran tidak terjadi atau tidak cukup terjadi, maka perempuan akan merasa sakit yang selanjutnya menghambat terjadinya orgasme.

Pada bagian akhir fase rangsangan, 2/3 bagian dalam vagian melebar. Bibir besar kelamin berubah menipis dan mendatar pada perempuan yang belum mempunyai anak, sedang pada perempuan yang sudah mempunyai anak bibir besar menebal selama fase rangsangan. Sementara itu bibir kecil menebal. Payudara menjadi lebih tegang dan membesar. Puting susu menegang dan membesar.

Pada bagian tubuh lain terjadi perubahan antara lain ketegangan otot pada seluruh tubuh, irama napas meningkat, denyut nadi dan jantung meningkat, tekanan darah meningkat dan mucul bercak kemerahan disekitar leher, perut dan payudara.

Perubahan menjadi semakin nyata pada fase datar. Selama fase ini perubahan pada kelamin menjadi lebih nyata. Klitoris tertarik sehingga tertutup oleh kulit penutupnya. Bibir besar pada perempuan yang belum mempunyai anak menebal, sedang bibir kecil mengalami perubahan warna sehingga menjadi lebih gelap. Pada vagina terjadi perubahan dalam bentuk pembengkakan dinding vagina 1/3 bagian luar, sehingga bagian ini menyempit. Pada rahim terjadi gerakan tak teratur dan cepat yang semakin intensif, yang sebelumnya telah dimulai pada fase rangsangan. Perubahan pada payudara menjadi semakin nyata, yaitu disekitar payudara, perut, bahu, punggung dan paha.

Ketika perempuan mencapai orgasme, beberapa perubahan yang terjadi tampak semakin nyata. Pada vagina terjadi gerakan otot yang bersifat ritmik, yang bila cukup kuat dapat dirasakan sebagai gerakan yang mencengkeram penis. Gerakan otot juga terjadi pada rahim. Klitoris tidak mengalami perubahan yang berarti.

Pada bagian tubuh lain tetap terjadi perubahan seperti pada fase sebelumnya. Ketegangan otot seluruh tubuh menjadi semakin intensif, bahkan terjadi sangat kuat, sehingga menimbulkan rasa sakit pada hari-hari sesudahnya. Demikian juga kenaikan irama nafas, denyut nadi dan jantung, dan tekanan darah. Kadang-kadang terjadi pelebaran lubang kencing sehingga perempuan merasa ingin kencing.

Sebagian perempuan mengalami ekspresi yang sangat kuat ketika mencapai orgasme. Disamping perubahan-perubahan tersebut diatas tampak sangat jelas, acapkali disertai dengan ekspresi suara yang tak terkontrol. Tetapi sebagian perempuan lainnya mengalami ekspresi yang tidak terlalu kuat.

Pada dasarnya perempuan mempunyai potensi untuk mencapai orgasme berkali-kali (multiple orgasm) bila tetap menerima rangsangan seksual yang efektif, seperti ketika mencapai orgasme pertama. Tetapi karena tidak semua perempuan dapat tetapa menerima rangsangan yang efektif seperti semula, maka hanya sebagian perempuan yang dapat mengalami orgasme berkali-kali. Sebagian perempuan hanya mampu mencapai satu kali orgasme, kemudian memerlukan waktu istirahat untuk mampu bereaksi kembali terhadap rangsangan seksual yang diterima.

Setelah mencapai orgasme, perempuan segera memasuki fase resolusi. Selama fase ini terjadi perubahan kembali ke keadaan semula sebelum terjadi rangsangan seksual. Klitoris kembali ke ukuran dan bentuk semula. Demikian juga vagina, rahim, bibir besar dan bibir kecil. Bagian tubuh yang lain perlahan-lahan kembali ke keadaan semula.

Tanda fisik lain yang dialami oleh banyak perempuan dan juga laki-laki setelah mencapai orgasme, ialah rasa mengantuk karena pengaruh zat yang menyerupai morfin, yang dikeluarkan ketika seseorang mencapai orgasme.

Baca juga: Obat Penderita Impotensi

HAMBATAN ORGASME

Dengan mengenali tanda fisik orgasme, seharusnya laki-laki dapat mengetahui apakah istrinya dapat mencapai orgasme atau tidak selama sekian tahun menikah. Kalau reaksi fisik seperti diatas tidak terjadi sama sekali, boleh jadi sang istri tidak dapat mencapai orgasme.

Memang tidak sedikit perempuan yang tidak pernah sama sekali mencapai orgasme walaupun telah sering melakukan hubungan seksual. Sebagian lagi pernah mencapai orgasme walaupun jarang. Sebagian lainnya tidak selalu mencapai orgasme ketika melakukan hubungan seksual.

Bila perempuan dapat mencapai orgasme, lebih lanjut dapat diamati dari ketertarikan dan kesenangan untuk melakukan hubungan seksual. Sebaliknya perempuan yang tidak dapat mencapai orgasme pada akhirnya akan merasa tidak senang melakukan hubungan seksual. Bahkan kemudian merasa kehilangan gairah seksualnya.

Kalau dengan berpegang pada perubahan fisik yang terjadi, laki-laki masih mengalami kesulitan untuk mengetahui apakah istrinya sudah mencapai orgasme atau belum, maka satu-satunya cara adalah dengan berkomunikasi.

Dengan cara menanyakan langsung kepada pasangan, akan didapat jawaban yang pasti apakah selama ini sang istri dapat mencapai orgasme atau tidak. Tetapi tidak semua pasangan dapat berkomunikasi secara terbuka menyangkut kehidupan seksual. Banyak pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tidak mampu membina komunikasi yang baik untuk membicarakan kehidupan seksual mereka.

Kalau begitu, terserah kepada masing-masing pasangan. Mana yang lebih mudah, apakah membina komunikasi secara terbuka ataukah dengan mengenali perubahan fisik yang terjadi, ketika perempuan mencapai orgasme. Tetapi Anda perlu ingat selalu bahwa komunikasi dengan pasangan tetap harus dibina.

Nah.., Itulah artikel tentang Mengenal Lebih Dalam Tentang Orgasme Pada Perempuan, mudah-mudahan artikel ini bermanfaat menambah wawasan pengalaman bagi pembaca.

Baca juga Kesehatan Seksualitas: Perempuan Mengalami Ejakulasi, Orgasme Bukan Ejakulasi