Perempuan Mengalami Ejakulasi, Orgasme Bukan Ejakulasi

Perempuan Mengalami Ejakulasi, Orgasme Bukan Ejakulasi

Perempuan Mengalami Ejakulasi, Orgasme Bukan Ejakulasi. Kalau seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, menerima rangsangan seksual yang cukup, maka dia akan mengalami reaksi seksual. Suatu siklus reaksi seksual yang sempurna berlangsung melalui fase, yaitu fase rangsangan, fase datar, fase orgasme dan fase resolusi.

Pada setiap fase reaksi seksual, terjadi perubahan fisik dan emosi. Perubahan fisik tidak hanya terjadi pada kelamin melainkan juga pada bagian tubuh yang lain, misalnya berupa kekejangan otot, peningkatan denyut jantung, irama napas dan denyut nadi.

Orgasme merupakan puncak suatu reaksi seksual. Bila rangsangan seksual terus berlanjut, maka tercapailah puncak reaksi seksual ini. Orgasme dirasakan sebagai suatu sensasi erotik yang menyenangkan, sehingga dinyatakan sebagai sesuatu yang nikmat.

Pada dasarnya sensasi erotik saat orgasme ini dirasakan sama, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Tetapi peristiwa orgasme bervariasi pada waktu yang berbeda dan juga bervariasi pada setiap individu. Kadang-kadang orgasme merupakan suatu sensasi yang sangat eksplosif dan luar biasa, tetapi bagi orang lain mungkin merupakan sesuatu yang terjadi dengan tenang dan kurang dramatik. Perbedaan intensitas orgasme disebabkan oleh beberapa faktor fisik, seperti kepayahan dan jarak waktu sejak terjadinya orgasme sebelumnya. Juga disebabkan oleh faktor psikis, seperti hubungan pribadi dengan pasangan dan keterlibatan emosional pada saat itu.

Perempuan Mengalami Ejakulasi, Orgasme Bukan Ejakulasi

Orgasme Bukan Ejakulasi

Pada umumnya orgasme dianggap sama dengan ejakulasi (keluarnya sperma pada laki-laki), sehingga seolah-olah ejakulasilah yang memberikan sensasi erotik itu, bukan orgasme. Padahal orgasme dan ejakulasi adalah dua peristiwa yang berbeda.

Orgasme Bukan Ejakulasi Dini

Orgasme adalah sensasi erotik yang dirasakan sebagai suatu kenikmatan seksual, sedang ejakulasi berarti keluarnya sperma pada laki-laki. Tetapi pada laki-laki normal, peristiwa orgasme disertai ejakulasi sehingga seolah-olah keduanya merupakan satu peristiwa. Pada laki-laki yang mengalami gangguan dapat terjadi keadaan tidak normal, yaitu orgasme tanpa ejakulasi. Jadi, ia tetap dapat menikmati sensasi erotik, tetapi tidak mengalami ejakulasi atau sperma yang keluar hanya sedikit sekali. Sebaliknya dapat terjadi ejakulasi tanpa sensasi orgasme.

Setelah mencapai orgasme dan ejakulasi, laki-laki akan memasuki suatu periode refrakter. Pada periode ini, laki-laki seolah-olah kebal terhadap rangsangan seksual dan tidak dapat mengalami ereksi lagi, apalagi mencapai orgasme dan ejakulasi lagi. Periode refrakter ini berlangsung dalam waktu yang bervariasi pada satu laki-laki dan bervariasi pula diantara satu dengan yang lain. Pada usia tua, periode refrakter berlangsung lebih lama, disamping daya ejakulasi juga lemah. Periode refrakter dipengaruhi oleh usia, keadaan kesehatan tubuh dan rangsangan seksual yang diterima.

Seperti pada laki-laki, orgasme pada perempuan secara fisik juga ditandai dengan kekejangan otot yang ritmik. Kekejangan otot terjadi pada 1/3 bagian luar vagina, rahim dan otot sekitar dubur. Tetapi sebenarnya reaksi yang terjadi bersifat total seluruh tubuh, tidak terbatas pada alat kelamin dan sekitarnya. Orgasme pada perempuan dapat terjadi berkali-kali, asal tetap menerima rangsangan seksual yang cukup. Sebagian perempuan hanya mencapai sekali orgasme. Tetapi pada dasarnya semua perempuan mempunyai potensi untuk mencapai orgasme lebih dari sekali.

Rangsangan G spot

Rangsangan G spotBerdasarkan peristiwa ejakulasi yang terjadi pada laki-laki ketika mencapai orgasme, banyak orang bertanya apakah perempuan juga mengeluarkan sesuatu ketika mencapai orgasme. Bahkan ada anggapan salah bahwa perempuan mengeluarkan sel telur ketika mencapai orgasme, sama seperti laki-laki yang mengeluarkan sperma. Karena itu sering muncul pertanyaan, apakah mungkin terjadi kehamilan kalau perempuan tidak mencapai orgasme bersama-sama dengan laki-laki ketika melakukan hubungan seksual.

Secara umum, ketika mencapai orgasme perempuan tidak mengeluarkan sesuatu cairan, tidak seperti laki-laki yang mengalami ejakulasi. Tatapi ternyata sebagian perempuan merasakan keluarnya suatu cairan ketiak mencapai orgasme, yang selalu dialaminya setiap kali mencapai orgasme.

Kepada saya lima perempuan telah melaporkan pengalamannya mengeluarkan cairan dengan semprotan yang kuat, ketika mencapai orgasme. Peristiwa itu membuat mereka merasa malu terhadap suami karena tempat tidur sampai menjadi basah, persis seperti terkena tumpahan air kencing. Empat orang suami juga melaporkan bahwa istrinya menyemprotkan cairan ketika mencapai orgasme. Laporan keempat suai itu sebenarnya lebih bersifat keluhan, karena mereka khawatir istri mereka mengalami gangguan sehingga tidak dapat menahan kencingnya ketika melakukan hubungan seksual.

Tetapi mengenai cairan yang dikeluarkan, ada persamaan dari kesembilan orang itu, yaitu mereka menyatakan tidak mencium bau air kencing pada cairan itu. Laporan mereka sesuai dan mendukung penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat. Dari penelitian itu didapatkan bahwa perempuan yang menerima rangsangan pada G spot mengalami orgasme yang disertai “ejakulasi”. G spot adalah suatu bagian yang sangat sensitif, terletak pada dinding depan vagina bagian luar. Rangsangan pada G spot menimbulkan orgasme dengan sensasi yang lebih dalam dibandingkan dengan rangsangan pada klitoris.

Orgasme yang terjadi ketika daerah ini menerima rangsangan, ternyata disertai “ejakulasi”. Tetapi tentu saja cairan yang dikeluarkan bukanlah sperma seperti yang terjadi pada laki-laki dan bukan pula air kencing.

Cairan Kelenjar

Cairan yang dikeluarkan ketika para perempuan itu mencapai orgasme dan “ejakulasi” diduga berasal dari kelenjar Skene, yang terletak disekitar urethra (saluran kencing). Maka cairan “ejakulasi” tersebut dikeluarkan melalui saluran kencing, tetapi cairan tersebut bukanlah air kencing. Maka benar sekali laporan pengalaman kesembilan orang itu yang menyatakan tidak mencium bau air kencing.

Pada analisis kimia yang dilakukan terhadap cairan perempuan yang mengalami “ejakulasi” itu, didapatkan adanya perbedaan antara cairan “ejakulasi” itu dengan air kencing, disamping ada persamaan. Salah satu bahan kimia yang konsentrasinya sangat berbeda ialah Prostatic Acid Phosphatase (PAP). Pada cairan “ejakulasi” konsentrasi PAP jauh lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasinya pada air kencing. Sesuai dengan namanya, enzim ini berasal dari kelenjar prostat. Padahal kelenjar prostat pada laki-laki. Beberapa peneliti menganggap letak kelenjar ini sebagi letak anatomi G spot. Maka rangsangan pada G spot selain menimbulkan orgasme yang berbeda dibandingkan dengan rangsangan pada klitoris, juga menimbulkan “ejakulasi” yang antara lain mengandung enzim PAP yang dijumpai pada laki-laki.

Tetapi untuk mempertegas kebenaran tentang G spot dan “ejakulasi” pada perempuan, tentu diperlukan penelitian lebih lanjut.

Cukup sekian dulu mudah-mudahan artikel yang kami buat tentang Perempuan Mengalami Ejakulasi, Orgasme Bukan Ejakulasi. Menambah wawasan pengalaman bagi pembaca.

Baca juga: Pengobatan Impotensi Seksual